Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

LINGKARAN KABUT

Dimuat dalam Majalah Wanita Kartini
Nomor 528 tanggal 15 – 24 November 1994 hal 80 - 82

Garis-garis hujan terlihat jelas dalam sorotan lampu-lampu mobil yang lalu-lalang. Tempaan sinar merkuri yang lindap meremangkan kegelapan Bukittinggi yang pekat. Yah, kabut terlalu tebal kalau hanya untuk sorot lampu mobil dan piasnya sinar merkuri.
Kabut jadi berwarni di puncak Jam Gadang yang berdiri kaku ketika serentetan kilat menyabung. Lampu beraneka warna di setiap sisinya lebih berupa coretan kuas seorang pelukis yang berserak tak beraturan: kadang bergelombang karena sapuan angin, kadang lagi meliuk.

SETELAH SEWINDU

Dimuat dalam Majalah Wanita Kartini
Nomor 437 tanggal 19 Agustus – 1 September 1991 hal 68 - 70

Asti memandangku dengan matanya yang berkaca-kaca. Bening itu perlahan melelehkan air di pipinya yang putih. Bibirnya tersenyum. Senyum yang membentuk sebuah garis lengkung yang teramat manis. Dan aku balas menatapnya dengan lembut. Dengan hati-hati, kuusap air hangat itu. Aku bahagia, Tris. Bahagia...— suara Asti serak bergetar. Dan tiada yang dapat kulakukan selain memeluknya penuh haru, mendekapnya dengan kehangatan cinta yang kumiliki. Kualirkan segenap perasaanku pada tubuhnya yang mungil. Terasa begitu indah.

DUA PEREMPUAN DUKA

Dimuat di Majalah  Wanita Kartini 

Nomor 616 14 Mei 1997 hal 80 - 82










Ayi meremas jemari tangannya, sekeras mungkin. la tidak lagi mengacuhkan ketika kletukan dijemarinya membuat nyeri. la merasakan benar betapa sakitnya hati seorang perempuan ketika mengetahui suaminya jatuh cinta lagi. la paham itu. la mengerti meski ia belum lagi bersuami. Duh, benarkah hati perempuan itu sangat sakit dan terluka?

KASIH DI MATA TEDUH

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 02 Tahun XX Januari 1996 hal 86-88

“Serahkan semuanya pada waktu, Raga. Tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan, kesimpulan atau apa pun namanya. Kita hanya dapat mengikuti kehendak waktu, bukan?"
"Tio, tidak sedikit yang telah kita ungkapkan, telah kita tuturkan sebagai wakil dari rasa yang kita punya. Sekarang, begitu saja, kau renggut kebanggaanku. Kau lempar ke jurang yang teramat dalam. Please, jangan berolok-olok, Tio!"

DUA PASANG MATA DUKA

Dimuat di Majalah Remaja Aneka
Nomor 07 Tahun III 06 April 1992 hal 14-17

Angin yang berhembus menebarkan aroma laut ke setiap penjuru kampus. Beberapa daun mahoni melayang-layang terbawa angin dan kemudian jatuh di pelataran parkir. Beberapa pipit kecil bercengkrama di dahan yang bergerak-gerak. Melompat-lompat gembira. Duh, kalau saja hidup sebahagia mereka, adakah yang lebih indah daripada itu? Aku memperhatikan diam-diam.

BINGKAI NUANSA UNGU

Dimuat di Majalah Remaja ANEKA
Nomor 17 Tahun V 27 Agustus 1994 hal 26-29

Senja seperti terlalu cepat direnggut malam. Hujan yang bagai ditumpah-ruahkan dari langit baru saja reda. Dan, masih saja, aku seperti berada di tengah-tengah kesunyian dan keterasingan yang dilingkar oleh keceriaan arena camping.
"Titi... melamun?"
Suara berat Amboro menyentak kesunyianku. Duhai, mengapa tiba-tiba aku harus berdegup? Kikuk dan kelihatan amat tolol di depan camping-out leader ini? Ah, tidak boleh dibiarkan!

SENYAP: LARA DADA DARA

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 08 Tahun XVIII April 1994 hal 34-37

denting, ketuk, detak
jadi nada tak terurai tala
senyap, sayup, sunyi - sampai
mengalir dalam kesepian; tak berujung

Dengan gerakan yang teramat lemah, Liona menarik tubuhnya yang terduduk pasrah di bangku. Sekali diusapnya keningnya yang berkeringat. Doa-doa terus meluncur dari lubuk hatinya: Sembuhkan ia, Tuhan!
Liona memindahkan bobot tubuhnya yang terasa menjadi beban ke dinding. Bersandar. Dipandangnya perempuan empat puluhan yang terbaring di ranjang. Ibu, kau terlalu tua untuk usiamu sebenarnya...
"Liona..." Belum lagi selesai perempuan itu dengan desahannya, Liona telah menghambur lagi mendekati ranjang.
"Ini Liona, Bu."

AH, RE...

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 02 Tahun XIX 21 Januari 1995 hal 72-74


Re menahan nafas. Untuk pertama kalinya Re merasakan genggaman tangan seorang cowok. Tubuhnya bergetar dan panas-dingin. Rasanya, keringat yang menyemburat dari segenap pori, dipompakan oleh sebuah mesin berkekuatan besar. Lihat, serupa kepanasan, ia berpeluh.
"Kamu kedinginan, Re?" tanggap Bo, sang cowok, dengan suara yang bergetar. Re gelagapan. Dimakinya dirinya sendiri. Duh, mengapa aku menjadi begini gugup?! Sial, ketahuan Bo lagi!

NEW KID ON THE BOOK


Dimuat di Majalah Remaja Mingguan HAI 

Nomor 45 Tahun XVI 10 November 1992 hal 68-70





Bing bela-belain diri menekuri buku-buku sastra. Padahal selama ini doi sama sekali nggak tertarik pada cerita-cerita, yang katanya, musingin plus mbosenin itu. Bing bersikukuh bahwa cerita sastra hanya menghabiskan enerji belaka. Kelewat berat, komentarnya suatu kali.

LORONG KESENYAPAN

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 07 Tahun XVII 5 - 18 April 1993 hal 42-45



“Ah, sudahlah. Jangan melarutkan diri dalam emosi. Ingat, kita mempunyai suatu masa yang masih teramat panjang. Masa depan. Kautahu, kan?"
"Aku tidak meminta apapun, Lucky. Jangan kau ganti perasaan dan hati dengan satu kata: emosi. Perasaan dan hati adalah sebuah setasiun tunggu. Sambil menghitung antrian pembeli karcis, gerbong-gerbong tua yang karatan, atau kambing-kambing yang terus mengembik di peron, kita selalu saja menunggu. Tahukah kau apa yang ditunggu? Ya, seseorang yang akan memberi salam atau sekedar menyenyumi. Ah, mengertilah, Lucky."

SESAL

Dimuat di Majalah ESTAFET
Nomor 67 Tahun VII Juni 1991 hal 66-67

UNTUK pertama kalinya Sari menangis. Layar monitor televisi ditatapnya dengan nanar. Biasan gambar itu seperti dengan tajam mengiris bola matanya.
Sari tercekat ketika suara penyiar terdengar bergaungan di benaknya yang menyebut nama Papa berulang-ulang. Suara penyiar itu menghujam jantung Sari. Nyeri.

DALAM BAYANG PURNAMA

Dimuat dalam Majalah Wanita Kartini
Nomor 467 tanggal 12 – 25 Oktober 1992



SELESAI penutupan kuliah oleh Profesor Kusnandar, Ir. Marni segera membenahi buku-bukunya. Tiga buah buku tebal dimasukkannya dengan tergesa ke dalam tas.
“Kelihatannya Anda terburu-buru," sapa Ir. Bastian dengan nada bersahabat dan simpatik.
         Ir. Marni mengangkat mukanya. Matanya mengawasi dengan cermat laki-laki yang berdiri tenang di samping mejanya. Sambil mengancingkan restluiting tasnya, Ir. Marni menjawab sekenanya, "Saya kira akan segera turun hujan. Sangat tidak enak terperangkap di sini dalam hujan deras."

PERKAWINAN DI LANGIT

Dimuat dalam Majalah Wanita Kartini
Nomor 576 tanggal 25 Maret - 4 April 1996


"APALAGIKAH yang diharapkan seorang lelaki
dari seorang perempuan selain kesahajaan
dan kesetiaan sesuai perasaan perempuan itu  sendiri?"

(Alam Taluko)



Dalam usinya yang muda, dalam statusnya yang kini sarjana pertanian, dalam kedudukannya sebagai asisten manajer, tidak dapat tidak, sosoknya pun melahirkan kecemburuan pada banyak orang. Wanita muda yang enerjik itu, dalam tempo tidak lama, telah menjadi tumpuan perhatian penghuni areal perkebunan.