SENYAP: LARA DADA DARA

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 08 Tahun XVIII April 1994 hal 34-37

denting, ketuk, detak
jadi nada tak terurai tala
senyap, sayup, sunyi - sampai
mengalir dalam kesepian; tak berujung

Dengan gerakan yang teramat lemah, Liona menarik tubuhnya yang terduduk pasrah di bangku. Sekali diusapnya keningnya yang berkeringat. Doa-doa terus meluncur dari lubuk hatinya: Sembuhkan ia, Tuhan!
Liona memindahkan bobot tubuhnya yang terasa menjadi beban ke dinding. Bersandar. Dipandangnya perempuan empat puluhan yang terbaring di ranjang. Ibu, kau terlalu tua untuk usiamu sebenarnya...
"Liona..." Belum lagi selesai perempuan itu dengan desahannya, Liona telah menghambur lagi mendekati ranjang.
"Ini Liona, Bu."

AH, RE...

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 02 Tahun XIX 21 Januari 1995 hal 72-74


Re menahan nafas. Untuk pertama kalinya Re merasakan genggaman tangan seorang cowok. Tubuhnya bergetar dan panas-dingin. Rasanya, keringat yang menyemburat dari segenap pori, dipompakan oleh sebuah mesin berkekuatan besar. Lihat, serupa kepanasan, ia berpeluh.
"Kamu kedinginan, Re?" tanggap Bo, sang cowok, dengan suara yang bergetar. Re gelagapan. Dimakinya dirinya sendiri. Duh, mengapa aku menjadi begini gugup?! Sial, ketahuan Bo lagi!

NEW KID ON THE BOOK


Dimuat di Majalah Remaja Mingguan HAI 

Nomor 45 Tahun XVI 10 November 1992 hal 68-70





Bing bela-belain diri menekuri buku-buku sastra. Padahal selama ini doi sama sekali nggak tertarik pada cerita-cerita, yang katanya, musingin plus mbosenin itu. Bing bersikukuh bahwa cerita sastra hanya menghabiskan enerji belaka. Kelewat berat, komentarnya suatu kali.

LORONG KESENYAPAN

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 07 Tahun XVII 5 - 18 April 1993 hal 42-45



“Ah, sudahlah. Jangan melarutkan diri dalam emosi. Ingat, kita mempunyai suatu masa yang masih teramat panjang. Masa depan. Kautahu, kan?"
"Aku tidak meminta apapun, Lucky. Jangan kau ganti perasaan dan hati dengan satu kata: emosi. Perasaan dan hati adalah sebuah setasiun tunggu. Sambil menghitung antrian pembeli karcis, gerbong-gerbong tua yang karatan, atau kambing-kambing yang terus mengembik di peron, kita selalu saja menunggu. Tahukah kau apa yang ditunggu? Ya, seseorang yang akan memberi salam atau sekedar menyenyumi. Ah, mengertilah, Lucky."

Different Dew


http://www.fotografer.net/galeri/galerix.php?id=1259417&i=3&awal=1&text=different%20dew&ref=4

Kapalo Banda



Kapalo Banda, nama suatu lokasi wisata di Kota Payakumbuh Propinsi Sumatera Barat.

http://www.fotografer.net/galeri/view.php?id=1246552

SESAL

Dimuat di Majalah ESTAFET
Nomor 67 Tahun VII Juni 1991 hal 66-67

UNTUK pertama kalinya Sari menangis. Layar monitor televisi ditatapnya dengan nanar. Biasan gambar itu seperti dengan tajam mengiris bola matanya.
Sari tercekat ketika suara penyiar terdengar bergaungan di benaknya yang menyebut nama Papa berulang-ulang. Suara penyiar itu menghujam jantung Sari. Nyeri.

DALAM BAYANG PURNAMA

Dimuat dalam Majalah Wanita Kartini
Nomor 467 tanggal 12 – 25 Oktober 1992



SELESAI penutupan kuliah oleh Profesor Kusnandar, Ir. Marni segera membenahi buku-bukunya. Tiga buah buku tebal dimasukkannya dengan tergesa ke dalam tas.
“Kelihatannya Anda terburu-buru," sapa Ir. Bastian dengan nada bersahabat dan simpatik.
         Ir. Marni mengangkat mukanya. Matanya mengawasi dengan cermat laki-laki yang berdiri tenang di samping mejanya. Sambil mengancingkan restluiting tasnya, Ir. Marni menjawab sekenanya, "Saya kira akan segera turun hujan. Sangat tidak enak terperangkap di sini dalam hujan deras."

PERKAWINAN DI LANGIT

Dimuat dalam Majalah Wanita Kartini
Nomor 576 tanggal 25 Maret - 4 April 1996


"APALAGIKAH yang diharapkan seorang lelaki
dari seorang perempuan selain kesahajaan
dan kesetiaan sesuai perasaan perempuan itu  sendiri?"

(Alam Taluko)



Dalam usinya yang muda, dalam statusnya yang kini sarjana pertanian, dalam kedudukannya sebagai asisten manajer, tidak dapat tidak, sosoknya pun melahirkan kecemburuan pada banyak orang. Wanita muda yang enerjik itu, dalam tempo tidak lama, telah menjadi tumpuan perhatian penghuni areal perkebunan.


Komposisi Cengeng

surat imajiner kepada Marsinah  

serasa didengar garpu tala yang kemaren dibeli
merambat bertukar fungsi, mendenting
di meja mahkamah terbelah palu bundar
resonansi getarnya amat lembut

toga hitam dan tumpukan buku tebal tak terbaca
teronggok berdebu di bawah meja
kesaksian, sumpah, doa bersama
adalah nyanyian yang amat sentimentil
di tengah gemuruh teriak kematian buruh  

ya, hanya komposisi nada cengeng
tak terukur tala  

menyaksikan tonil penuh kelucuan yang bodoh sambil duduk lesehan menikmati kopi bergula pahit dan seplastik kacang goreng yang tiada garing; hanya angin merayap dan kedinginan pori yang dirasa
di kursi-kursi empuk di ruangan megah-mewah
orang-orang menyaksikan kisah serupa: Tetapi bukanlah tonil yang kampungan, Dik!  

Maret 1994

 
Agustus ke-47

kepada negeri dwiwarna: rudhira swita  

dalam lorong panjang waktu, bukan labirin
sedayu-dayu angin menjalin lintang khatulistiwa
menaburkan permata, serupa riak samudera
mengekal jalan, terbentuk dari darah dan kepercayaan

suatu waktu lalu, kita susun bata merah dan putih
kukuhkan pertautan di tanah yang hanya lempung
bergandeng susuri ngarai dan bengawan
dalam tingkap hati yang telah membuka sejak langkah pertama 
biarkan ngarai dan bengawan dirayapi kering
tanpa kita kehilangan airnya yang ngalir bening  

(adakah musim panas mengerontang atau
musim hujan mebah hingga latar merah dan putih
hanya dwiwarna yang kabur dan tiada berarti?)

kita telah susun bata merah dan putih
kukuhkan pertautan di tanah yang hanya lempung  

Agustus 1992