MANUSIA MANUSIA

 

memilah-milah meremuk. jadilah makna
mengaliri sungai-sungai kerontang dengan ikan
ikan kurus yang menangis. tersedu-sedu
tersusut dengan asam cuka sampai dada terkoyak
lagi. jadilah makna mengalir

pendeta berkacamata, salib melempang di langit  langit
di balik saku madona telanjang
kubah bertulis kalimah luhur-suci
namun dia bergaung-gaung
si bangka bersorban
tengkurap memeluk bulan. mendesah panjang menegang
regang beliak membeliak: betina mendecak

o, manusia o, manusia
jadilah makna mengalir jauh-jauh
ke balik langit
bersama fantasi melambung-lambung  

Desember 91
 
Harian Haluan, 22 Maret 1992

MALAM TAHUN BARU

⁃ selalu begitu tiap tahun  

getar dawai telah kuaransir
jadi sebuah irama, serenade. kantata luka
bebatu telah kususun
jadi sebuah arca. termangu  

kemudian irama jadi batu
arca jadi puing  

(adakah KAU tahu?)  

1985-1990

Harian Singgalang, 7 Oktober 1991

RABU 17 JANUARI

I
desau daun bercengkerama
dengan gerimis pagi bạsah
melengket embun embun, menempel
di kaca, terasa tirai
semua membatas
antara nisan dan cakrawala
berkabut  

II
embun turun rapuh
hinggap di daun suram
pagi tak bermatahari
lazuardi tak ada ini kali
'lain putih menggumpal
lembut
lunak
tengadahlah aku
    ⁃ di antara kaca berkabut ⁃
mencoba menembus ke nirwana
sia-sia. lagi jadi batas
antara nisan di pusat makam
dengan cakrawala berkabut  

1989  

Harian Singgalang, 7 Okt 1991

DI SINI BUKAN BUKITTINGGI


bagaimana raga bisa berada di sini?

malioboro ternyata tak seindah cerita dan lagu
yang membentuk khayali tentang negeri seni
yang membangun percaya tentang kesahajaan insani

kali code ternyata bukan lukisan alam yang indah
yang mengalirkan kebeningan
mengulurkan persahabatan  

(inikah dua tempat di mana kesurgawian didengungkan?
sedang arogansi dan sampah-sampah memaparkan bentuk?)  

dan aku tahu betapa raga berada di sini
menyadari bahwa kota ini bukan Bukittinggi
tempat ngarai mengalirkan kebeningan
tempat Jam Gadang mengulurkan persahabatan  

biarlah aku percaya bahwa manusia telah mengubah segalanya
dan biarkan juga aku yakin bahwa
Bukittinggi kelak akan berbentuk sama  

Yogyakarta, 1995

KERJAP RINDU DI MATA ANGIN

  
menempuh ribuan jarak
menyusur banyak mata angin
ada ujud tunggal mengental
mengada, waktu ke ketika. meski sesaat
sebagai bentuk kepurbaan perasaan  

banyak mata angin mengintip
melelahkan tangis haru
tentang keinginan yang terkotak
terlempar ke langit tak berbatas  

kerjap rindu di mata
angin membawakan nyanyi sunyi
menyempurnakan keterasingan  

ah, ah, betapa rindu jadi tangis
ingin mengaso dalam pangkuan bunda
dalam dekapan kekasih
bersama turut menyenandungkan
segala nyanyi yang tak sunyi  

(tapi di sini betapa terasa
segala keinginan pada tanah ibu
mempercakapkan dalam dialog tradisi)  

Dan, rindu mengerjap jua
dalam banyak mata angin  

Yogyakarta,  Mei 1995  

Dari Lintas Andalas - Umbul Harjo*

--sajak terminal ke terminal


sangkar berisikan daging-daging bergerak
menyemut memperebutkan bawaan pendatang
menarik ke bis-bis kosong terpanggang terik
berteriak dengan suara yang kian serak  

bertanyalah nurani diam-diam:
"takkah kalian bisa sedikit sopan?"
daging-daging bergerak memberingas
kemelut dan krisis hidup manusia
melahirkan kekasaran untuk namanya pangan
makan makan makan
betapa sulit di terminal ini  

dari lintas andalas ke umbul harjo
tidak banyak berbeda rupa:
sangkar berisikan daging hidup yang gerah
bis-bis kosong terpanggang terik
pungli,preman dan petugas
membangun arak-arak
tentang hidup yang kian terpepet  

Yogyakarta, Mei 1995  

* Lintas Andalas = terminal bis antarkota Padang  Umbul Harjo = terminal bis antarkota Yogyakarta

Surat untuk Kita

--sebuah prosa

Sering sekali, tanpa sengaja, kita melemparkan kebencian dengan senyum yang janggal. Lihatlah, betapa senyum telah disalahgunakan. Tapi pada banyak sebab, bukankah kebencian ditimbulkan oleh tumpukan ketidaksukaan?

Tidak, aku tidak tengah membicarakan ketidaksukaan atau kesukaan. Tapi aku tengah mengatakan betapa angin benar-benar telah menjadi prahara. Membuat segala keinginan diluluhkan dan kemudian ditaburkan pada banyak tempat yang telah terberai jauh. Lihatlah, pohon-pohon sawit, pusat-pusat properti, atau tumpukan diktat-diktat kerja. Semua menjadi satu dan bertumpuk dalam cerana yang disebut keputusasaan.

Putus asa adalah surutnya permukaan laut jiwa ke tingkat paling rendah. Dan, setelah bertahan sekian tahun, akhirnya kita harus takluk dan lumpuh dalam pelukannya yang suram. Kita mengerti tapi kita tidak peduli. Hati telah dibakar dan jiwa telah disimpan dalam peti mati atau hanya sekedar hibernasi. Bukankah batu nisan telah dipesan? Sebab, usia sebenarnya adalah menunggu selesainya pemahat batu nisan.

Berbicara tentang nisan, kita merasakan benar, bahwa keranda adalah bagian yang tak terpisahkan. Dalam aroma melati bisa kita tangkap hawa kedukaan atau keriaan. Sekarang dari sudut manakah kita hendak menilai? Lihatlah usung-usungan itu: memintasi mata kita dengan bangga dan leluasa.

Sekarang, kita telah katakan sebelumnya, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan: tentang keranda, nisan, melati atau bahkan tentang tumpukan diktat kerja, pusat properti dan pelepah sawit.

Bukankah semua telah bertumpuk pada satu cerana: Nafas!

Jakarta, 31 Desember 1996

Percakapan Bunga Baja

 --Kepada Ayi (II)

memulai percakapan dibuka dengan penyesalan
menyanyikan kekecewaan yang dibangun dengan lucu
kau senyumkan kemurungan: "aku lelah!"
bertengkar dengan kata. omong kosong
tentang percintaan ke percintaan. duh, bunuh!
pagi-pagi bau anyir perpisahan didengungkan
"sialan benar anak-anak itu. fuh!"  

dulu bunga dari kertas. bercakap-cakap
pabrik baja juga membuat bunga. kausuka
begitu keras kelopaknya. tajam. sampai malam
angin tak jua menggugurkan. "aku lelah!"  

kau adalah kanak-kanak yang manis
menunggu kanak-kanak lain di pintu keluar
kertas-kertas remuk menyerupai bara bunga baja
panas nian. tapi kau tak peduli
air matamu seperti timah. menyesali pisah ke
pisah. "bukankah aku turut berduka cita?"  

Jakarta, 1997

Manekin Perempuan Katamu

 --kepada Ayi (I)  

kepada kata kita lepas ketidakpuasan, merajuk dan ulaskan kegetiran
beribu omong kosong mengiringi nina bobo
dari bibir bergincu. begitu hitam
bukankah perasaan terkontaminasi omong kosong
kepergian diawali kedatangan, gaduh
beribu gerbong kata diusung, dirajut
dililitkan di setiap bantalan rel sejajar
"siapakah yang manekin kalau kau tak?"
bergerak kaku: "ini bukan perasaan, Bung!"

setiap hitungan keluruhan hari. cerabutkan
budaya perempuan telah dilempar keluar jendela
sebagai remah dibawa tikus.
"lihatlah, kaubukan manekin hidup!"
percayalah bahwa melahirkan anak manusia
lebih dari sekedar sorga  

Jakarta, 1997  

Primaere Behoeften

Dimuat di Tabloid Gema Justisia
pada Kolom Awamatra ed. 1993



Ketika serigala lapar, kelinci-kelinci padang yang putih  dan kecil berlarian ketakutan. Sang induk mendekap anak-anaknya dalam gigilan kecemasan yang utuh. Serigala -anjing hutan bermulut panjang dan mengerikan- melolong  melengking membelah bulan: mengabarkan kelaparannya  pada semesta!