LORONG KESENYAPAN

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 07 Tahun XVII 5 - 18 April 1993 hal 42-45



“Ah, sudahlah. Jangan melarutkan diri dalam emosi. Ingat, kita mempunyai suatu masa yang masih teramat panjang. Masa depan. Kautahu, kan?"
"Aku tidak meminta apapun, Lucky. Jangan kau ganti perasaan dan hati dengan satu kata: emosi. Perasaan dan hati adalah sebuah setasiun tunggu. Sambil menghitung antrian pembeli karcis, gerbong-gerbong tua yang karatan, atau kambing-kambing yang terus mengembik di peron, kita selalu saja menunggu. Tahukah kau apa yang ditunggu? Ya, seseorang yang akan memberi salam atau sekedar menyenyumi. Ah, mengertilah, Lucky."

Lalu, senyap. Dari kesenyapan tertangkap oleh Sam keraguan dalam mata gadis yang setengah menengadah di depannya, mata Lucky. Mata yang tengah menerawang menembus langit yang mendung. Beberapa pipit terbang terburu pulang ke sarang.
"Kalau kau tidak mau mengembalikan kata hati dan perasaan pada hati dan perasaan itu sendiri --bukan emosi, tak perlu memberi aku dalil baru yang sulit untuk dipahami. Untuk dimengerti." Suara Sam menjadi irama yang getir. "Siapakah yang tidak ingin melihat masa depan yang gemilang, Lucky. Aku. Kau. Kita. Tapi apakah kau tidak tahu bahwa di sisi lainnya ada suatu kebutuhan?"
"Kebutuhan?"
"Kebutuhan, Lucky. Kebutuhan akan seseorang yang memberi salam atau sekedar menyenyumi. Bahkan, jika lebih dari itu, adalah harapan yang paling maksimum dalam nadi kebahagiaan." Sam menikam manik mata Lucky dengan pancaran matanya. "Mengertilah. Biarkan dia mengalir sebagaimana adanya, Lucky. Jangan rintangi. Jangan kauberi sekat. Itu adalah hati dan perasaan yang tulus."
"Cukup, Sam!" Lucky memutar tubuhnya, cepat. Diterobosnya garis gerimis yang mulai turun dengan sorot mata yang bimbang. Memandang ke punggung ombak yang kian deras. Suasana dan hawa hujan telah mulai terasa dibawa angin. Lalu, sambil tetap tidak melihat pada Sam, ia bicara tegas, “Ingatlah, Sam, banyak yang membedakan kita. Yang membuat kita tidak mungkin menterjemahkan hati sebagai hati, perasaan sebagai perasaan. Hati dan perasaan, bagi kita, adalah emosi. Emosi, Sam. Itu yang harus tetap kita pertahankan. Jangan memberi definisi baru pada dua kata itu. Hanya itu."
Sam melompat, cepat. Berdiri di hadapan Lucky. Kepalanya dimajukan hingga begitu dekat dengan telinga Lucky. Lalu, “Ingat, Lucky, jauh-jauh hari, semua ini --seperti janji kita, tidaklah masalah. Kita akan tetap melangkah. Jangan beri aku alasan-alasan yang tidak masuk akal. Ayo, berceritalah. Apa yang tengah terjadi, Lucky."
Setelah diam beberapa saat, "Berikan aku waktu untuk berpikir, Sam," kata gadis berambut pendek itu jelas. "Sekarang, antarkan aku kembali ke hotel." Tidak menunggu jawaban Sam, ia telah berbalik dan berjalan ke pelataran parkir.

***

Di atas dipan, di hotel, Lucky merutuk hati dan perasaannya sendiri. Hati dan perasaan yang jelas bukan sebagai emosi, seperti alasan-alasan yang telah dikemukakannya pada Sam. Tapi, saat ini, hati dan perasaannya, adalah sebentuk setasiun tunggu, seperti kata Sam, yang dengan penuh harap menanti sapaan atau sekedar senyuman. Anehnya, kini, setelah sapaan dan senyuman itu datang ke hadapannya, Lucky merasa gagap. Tak siap menerima apa yang tengah terjadi.
"Tidak seharusnya kau merenung di sini, Dear. Kita datang ke sini untuk berlibur." Tante Vi, adik mama Lucky yang mengajaknya ke tanah Minang ini, berjalan mendekat. "Bukankah besok kita akan ke Bukitinggi, kota yang dulu selalu kauimpikan? Ah, please, tersenyumlah. Jangan murung begitu."
Kecut Lucky tersenyum: Kota yang dulu selalu kauimpikan! Ah, itu dulu. Dulu sekali. Ketika Soni belum lagi dikenalnya.
"Kamu sakit?" Tante Vi mulai cemas. "Please, katakanlah pada tante apa yang kaupikirkan."
"Saya baik-baik saja, Tante. Sungguh."
Tante Vi tersenyum. "Ah, Cah Ayu rindu Soni, kan?" la tertawa. Lalu, "Sabar saja, Dear. Kita di sini tidak akan lama, kan? Paling banter cuma satu minggu. Setelah itu kita kembali ke Surabaya."
Sebentar Tante Vi mengamati kemurungan di wajah ponakannya. "Alah, jangan terialu dipikirkan lelaki itu. la tidak akan menyeleweng apalagi berkhianat, Honey. Sekarang, yang penting bagaimana kita bisa happyHow make to be happy. OK?” Wanita setengah baya yang dipanggil Tante Vi itu, kemudian, kembali ke luar kamar.
"Hati-hati dengan hati dan perasaanmu, Dear, " pesannya sebelum menutup daun pintu.
Soni! Benarkah aku tengah rindu padanya? Takut dia akan berkhianat dan pergi dengan gadis lain? Tidak! Aku tidak memikirkannya, atau menyangsikan kesetiannya. Bukan itu! Lantas? Ya, lantas apa? Lantas...

***

Keresahan Lucky mengapung dengan cepat sejak ia bertemu dengan Sam, sahabat penanya, yang bila terhitung tahun ini, adalah tahun kedelapan mereka bersahabat lewat surat. Dulu, waktu jalinan persahabatan itu dimulai, mereka baru duduk di bangku SMP, kelas dua. Surat pertama Sam adalah surat yang bukan untuk Lucky, tapi untuk Evelin yang kost di rumahnya. (Evelin mengirimkan foto dan biodatanya pada sebuah majalah remaja untuk menjadi anggota Ruang Sahabat Pena. Dan, mungkin, Sam sempat membacanya dan kemudian mengirimkan surat persahabatan). Saat itu, ketika surat dari Sam datang untuk Evelin, Evelin telah pindah ke Manado. Lucky yang menerima surat itu, iseng saja membukanya. Dan entah kemauan apa, ia merasa perlu menjelaskan persoalannya.
Dari penjelasan persoalan kepindahan Evelin itulah, mereka, Sam dan Lucky, menjalin persahabatan. Persahabatan yang entah macam apa --karena dalam setiap surat hampir selalu ada kalimat-kalimat mesra: bagai layaknya sepasang kekasih, Dan, itu berlanjut sampai mereka kuliah. Sam, saat ini, duduk di tahun ke tiga di Fakultas Hukum dan Lucky di Fakultas Administrasi Negara tahun yang sama.
... Ah, bagaimana aku harus menjelaskan semua ini pada Sam, getir Lucky lagi. Sulit untuk menerangkan pada laki-laki itu, bahwa ia, Lucky, telah mempunyai pacar --mungkin semi tunangan, yang bernama Soni. Sonny Prihardja. Oh, God...
Begitu mesranya surat-surat antara mereka, sampai-sampai dalam banyak surat, ada desahan-desahan sayang, nada-lagu kerinduan yang memuncak, dan jerit-ratap kesepian dua hati yang disekap rindu. Kemudian, sama-sama mengakui, bahwa mereka saling mencintai, saling membutuhkan, dan berjanji untuk hidup bersama kelak. Semua ikrar yang terucap dengan setiap surat, tanpa peduli pada jarak yang mernbentang antara Surabaya-Bukittinggi. Tak peduli adat-istiadat, tak peduli bahasa, tak peduli segalanya --tiada batas ruang dan jarak. Satu yang mereka sama peduli: memadu kasih dalam setiap surat…. Dan, mereka, berjanji untuk bertemu di suatu waktu saja, saat dua cincin kembar telah disiapkan. Di saat bagian cincin itu saling disusupkan ke jemari pasangan. Duh, bukankah itu adalah kebahagiaan yang teramat indah? Dan, mereka pun merasa tidak perlu bertemu sampai suatu waktu itu.
Ah, itulah rencana mereka. Rencana yang terus membara dalam setiap susunan kata di antara surat-surat yang mengalir antara Surabaya-Buktittinggi, yang menghubungkan dua hati dan dua rasa, yang kemudian diterjemahkan Lucky sebagai emosi --setelah ia benar-benar bertemu dengan Sam. Walau sesungguhnya itu adalah pertemuan yang memang diminta Lucky. Sebelum ikut Tante Vi ke Padang, sebagai perjalanan bisnis sekaligus liburannya, Lucky mengirim kabar pada Sam bahwa ia akan datang. Sam yang kuliah di ibukota propinsi itu, tentu amat senang hatinya. Sam menunggu kedatangan gadis itu di Bandara Tabing.
Sebuah perternuan yang sangat mereka rindukan dalam setiap surat, di bandara itu, tak lebih dari pertermuan biasa yang penuh kekakuan. Sebentar saling tatap, sedikit tersenyum, bersalaman, dan, bicara sekedarnya. Ah, waktu itu, betapa kecewanya Sam. Dalam jalinan impiannya, Lucky akan datang berlari ke arahnya dan menghambur. Sam akan membuka kedua tangannya dan merangkul dengan penuh kehangatan cinta kasihnya. Cinta yang telah terukir jelas di atas kertas-kertas yang dengan setia menghubungkan dua hati dan dua rasa itu.
..God, tunjuki aku cara terbaik menghadapi situasi ini. Fuah, apa yang kupikirkan? Lucky meremas rambutnya yang pendek. Begitu sulitnya ia harus menjawab setiap pertanyaan yang mengalir bersilih. Pertanyaan yang bahkan dibuatnya sendiri pun tak mampu ia jawab. Diliriknya jam dinding. 17.43. Di luar hujan terlalu deras. Pelan ia berdiri. Berjalan lambat mendekati jendela. Lalu....
Pertemuan kedua dengan Sam, setelah Lucky berada dua hari di Padang. Sam datang ke hotel dan mengajaknya ke Pantai Caroline. Waktu itu, karena sorot mata Sam yang amat dalam, Lucky tiada mampu untuk menolak. Tapi ketidakmampuan menampik itu pulalah yang melahirkan alasan-alasan atas tuntutan Sam. Bahwa hati dan perasaan di antara mereka hanyalah emosi belaka. "Emosi itu bukanlah bagian dari pemikiran yang sehat dan realistis, Sam. Maka sangat tidak arif jika memperturutkan hawa itu. Sesungguhnyalah kita tidak memiliki apa yang disebut dengan hati dan perasaan." Kalimat Lucky menghantam kepala Sam. Laki-laki itu terpana. Terpurangah dalam ketidakmengertian yang dahsyat.
"Lantas, untuk apa kita menjalin hubungan selama ini. Membangun kemesraan, menanam kerinduan, bersumpah untuk saling setia, kalau bukan karena hati dan perasaan, Lucky." Sam mencekal lengan gadis itu. "Jangan mempermainkan hati dan perasaan, karena ia bukanlah Teddy Bear. Ayo, beri aku jawaban yang lebih realistis: selain kita beda dalam segala hal!" Suara Sam terdengar sedikit meradang. Meradang atas ketidakadiIan situasi yang telah dibangun dengan sungguh-sungguh.
"Cukup, Sam! Jangan mendesakku!” Dengan tegas Lucky menghentikan kalimat Sam yang masih saja tidak percaya pada situasi dan kenyataan yang dihadapinya. “Kalau kau ingin jawaban, kuminta tidak sekarang. Tidak sekarang!"
Sam dengan lunak berbalik. Lalu, "Aku tidak mengharap apa-apa, Lucky. Bagiku yang perlu hanya penjelasan. Penjelasan, Lucky. Beratkah bagimu untulk sekedar memberi penjelasan?" Sam telah kembali menghadap ke arah Lucky yang berdiri mematung tepat menghadap sunset.
"Apapun bentuk penjelasan, kau telah tidak terima."
"Aku akan terima. Tapi tidak penjelasan yang semu." Suara Sam bergetar.
"Lantas?"
"Lantas? Kau bertanya padaku?" Sam mempelototkan matanya. Kemudian, "Ah, baiklah. Mungkin aku yang terlalu berharap hari ini. Sudahlah. Mari kuantar pulang."
Dan pertemuan ketiga mereka adalah siang tadi. Ketika Lucky masih belum mampu memberi jawaban yang pasti.
... Lalu, setelah menghela nafas berat, Lucky mendengar bisikan-bisikan dalam hatinya, dalam dadanya yang bergalauan. Bisikan dalam kalimat-kalimat yang tidak ada ujung-pangkalnya. Entah kalimat dari siapa yang ditujukan untuk siapa. Sementara, di luar, hujan kian deras. Jalan di depan hotel berbintang ini, digenangi air riol yang melimpah. Semburan air tiap kali mobil lewat, menjadi tontonan yang menarik bagi Lucky. Tontonan yang sedikitnya mampu menenangkan kegalauannya.
"Di sini kita berlibur, Dear. Bukan untuk bermuram-durja," ujar Tante Vi ketika melihat Lucky masih saja membisu. Lucky hanya mengaduk-aduk minumannya sambil matanya menatap ke luar restoran: lurus ke arah Jam Gadang. "Oya, sementara tante menyelesaikan urusan bisnis dengan Tuan NasruI nanti, kau pergi sendiri, ya? Jalan-jalanlah ke berbagai tempat rekreasi di kota ini."
Ya. Tante Vi adalah wanita pengusaha yang gesit, tangkas. Termasuk dalam memadukan program kerjanya dengan liburan. la adalah seorang wanita, yang tidak saja cemerlang, tapi juga mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kehidupan kumuh terutama di Surabaya. Secara rutin, Tante Vi menjadi donor di beberapa yayasan. Ah, jika setiap pengusaha seperti Tante Vi, tidak akan ada kemelaratan di tanah leluhur yang subur makmur ini. Apa sih sulitnya menyisihkan sedikit saja dari keuntungan yang didapatkan? Apalah artinya sekian juta dari sekian ratus juta keuntungan per tahun? Fuah! Orang-orang lebih mengutamakan menumpuk kekayaan daripada memperhatikan sesama!
Hari merangkak siang. Matahari lurus di atas kepala.
Dan, Lucky berdiri mematung, ditelan alam Bukittinggi yang sekian tahun menjadi impiannya, menjadi kerinduan yang memuncak kala surat Sam hadir di rumahnya. Tapi kini, setelah bertemu Sam, mengapa ia, Lucky, merasa ada yang tidak mampu untuk dijelaskannya? Sungguh tidak sanggup ia mengurai kata sebagaimana dalam setiap jerit rindu surat-suratnya pada Sam, yang bahkan juga setelah ia bertemu Soni, dua tahun lalu!
Dalam masa-masa indahnya bersama Soni, masih sempat ia menyusun kata-kata mesra dan indah untuk Sam. Dan kini, saat tuntutan datang dari Sam, Lucky tak mampu lagi, tak tahu lagi untuk berkata apa. Haruskah bicara terus-terang tentang laki-laki lain dalam hatinya? Tentang Soni yang dicintainya dalam alam nyata?
Damn! Sam yang teralu mengagungkan surat-surat itu! Menanamnya dalam hati dan perasaannya sendiri. Atau, apakah aku yang salah? Menanam butir demi butir cinta pada laki-laki itu?
Lucky terus mengukur-ukur perasaannya. Membanding-banding antara Sam dan Soni...
Tentang Sonny Pahardja:
Adalah laki-laki perlente, berpendidikan Amerika, briliant dan, seorang pengusaha muda yang benar-benar muda. Dan, berhasil! Usianya baru dua delapan tahun (tujuh tahun lebih tua dari Lucky). la laki-laki sopan, penuh pengertian, sabar dan berperasaan halus. Jauh berbeda dengan sisi lain dari kehidupannya sebagai pengusaha, sebagai bussinessman, yang relatif keras, tanpa perasaan dan tanpa basa-basi. la adalah laki-laki flamboyan dalam artian yang lebih positif!
Dan, perjumpaan Lucky dengan Soni, adalah karena Tante Vi, yang beberapa kali mengajak Lucky datang ke kantor laki-laki itu. Dari pandangan demi pandangan di sana, Lucky begitu simpatinya akan kesopanan, kebersahajaan dan kharismanya. Duh, wanita mana yang tidak tertarik melihat semua itu? Apalagi, kemudian, nyata sekali Soni mencintai Lucky.
Suatu kali, "Lucky, aku tidak akan memaksa. Aku tidak akan membabibuta, dan, aku tidak egois. Ada satu hal yang paling mendasar yang ingin kusampaikan," tutur Soni dengan nada yang amat memikat.
Lucky hanya diam sambil hatinya menyusun berbagai kalimat dan impian indah.
"Sampai saat ini, setelah sekian bulan kita sering bersama, aku kira tidak salah jika kemudian muncul perasaan dari keinginan yang telah kuterjemahkan pada sebuah kebutuhan. Hanya itu, Lucky. Itulah kerinduan. Kerinduan untuk bicara serius tentang sesuatu yang mendasar itu."
Hanya itu yang dikemukakan Soni, sopan. Dan, Lucky merasa dirinya telah tergelepar dalam kharismatik laki-laki itu. Dan kemudiannya lagi, ia tidak menolak setiap ajakan Soni ke berbagai acara. Mereka menjalin hubungan khusus.
Tentang Samba Hardinal:
Adalah laki-laki berpostur sedang, bermata legam, bertutur bahasa menarik (seperti dalam surat-surat mereka), dan sedang kuliah. Mempunyai kecerdasan yang lumayan, ketua Senat Mahasiswa. Lalu, ada satu yang kurang disukai Lucky: Sam seorang seniman. la penulis cerita, pendek atau panjang, dan puisi-puisi. Bagi Lucky, para seniman, seperti pendapat banyak orang, hanya menjadikan wanita sebagai wahana inspirasi.
Tapi, sesungguhnyalah, Sam, bukanlah tipe begituan. La pemuja cinta dan kesetiaan. Demikian, cinta yang dibangun lewat surat-surat pun, baginya adalah suatu yang pantang untuk dikhianati. God, benarkah ada laki-laki yang seperti ini? Atau, inikah yang disebut kesetiaan dari ketidakmampuan untuk menggapai wanita lain? Wanita yang hidup dalam alam  di sekitarnya?
Sebelum berangkat ke Surabaya, senja itu, Sam kembali datang. Mengajak Lucky ke Pantai  Pasir Jambak.
"Sam, dalam pertemuan kita yang tidak beberapa kali ini,"
"Yang juga tidak berkesan apa-apa," potong Sam.
"Entahlah," Lucky mendesah. Lalu, "Kita memang dipisahkan oleh dinding yang tebal, Sam. Tidak hanya jarak dan ruang." Dan, "Ternyata kita lebih cocok untuk memadu kasih dalam impian-impian surat."
"Bukan kita. Bukan kita yang merasa cocok memadu kasih lewat surat. Tapi kau!" tegas Sam. "Tapi bagaimanapun, kita pernah menjalin hubungan dalam keseharian remaja kita yang panjang," tuturnya lunak.
Kemudian senyap.
"Kau pernah membaca kisah percintaan Kahlil Gibran yang hanya dalam surat, Lucky? Ya. Mereka bercinta tanpa pernah bertemu sampai akhir hayatnya." Sam memandang ke ombak yang kecil. Buihnya. Lalu, menjilat pesisir dengan matanya yang ragu.
Senyap lagi. Lebih lama.
"Lucky." Kesenyapan pecah. “Dalam sebuah penantian, yang amat kita butuhkan hanyalah kepastian. Tiada penantian akan sia-sia, jika ia mempunyai ujung. Dan jika ternyata ia tidak punya ujung, setelah ada penjelasan, maka akan sangat arif jika penantian itu dihentikan. Atau, akan lebih arif lagi, bila kita pindah ke setasiun lain, sembari menunggu sapaan atau sekedar yang akan menyenyumi."
Suara Sam yang berat, bergetar, menusuk sampai ke relung hati Lucky. Bening matanya melayang jauh ke tengah laut.
"Sam, kuminta, jangan melarutkan diri dengan hati dan perasaan. Biarkan yang lalu menjadi bagian yang pernah ada," tutur Lucky, lirih.
Setelah sedikit beringsut, Sam memungut sebuah potongan karang. Diamatinya dengan teliti, seolah mencari sesuatu. "Baiklah, Lucky, aku tidak akan menuntut penjelasan lagi. Barangkali memang sebuah kematangan jika kita mampu mengartikan hati dan perasaan sebagai satu kata: emosi."
"Jangan menyindir, Sam. Aku hanya berpijak pada realita. "
Setelah sekian lama saling terkungkung dalam kesenyapan, akhirnya, Sam berdiri, menarik tangan Lucky. "Mari, kuantar pulang."
Dalam mobil, yang Lucky mampu hanya menggurat-gurat dashboard dengan kukunya. Bisu. Sam berkali-kali melirik. Dan setelah lirikan yang entah ke berapa, ia bicara, "Lucky, semoga perjalanan pulangmu esok hari, selamat sampai di Surabaya. Maafkan, esok aku tidak dapat mengantar. Ada seminar."
Dan, "Sampaikan salamku pada Tante Vi. la. wanita baik yang suka bercerita. Tentang segalanya."
Lucky menjerit sekuatnya. Tanpa suara. Ada yang terasa tersayat, terluka, mengalirkan darah...
Lalu, "Juga salamku untuk Sonny Prihardja."
... Darah dari hatinya yang...
Kemudian, "Salamku adalah salam ketulusan, Lucky."
Dan, sempurnalah jerit itu dalam dada Lucky yang kian koyak.
Dari jendela pesawat, di balik kaca, Lucky menyapu seluruh kota dengan matanya yang disapu air. Bening. Mengalir….

***


No comments: