LEMBARAN (Bagian 2)

Dimuat dalam Majalah Wanita Sarinah
Nomor 252 tanggal 18 – 31 Mei 1992
Bonus Novelet


TANTE PIN
Duh, Pembaca yang budiman, apakah Anda akan menganggapku picik, kerdil dan tidak jantan? Karena tidak mengatakannya saja pada Asih apa yang sebenarnya kurasakan? Atau, apakah Pembaca mencapku seperti remaja SMA yang mencinta takut-takut dan menyembunyikannya jauh-jauh? Mungkin juga Pembaca telah menuduhku salah mengartikan kebaikan orang lain dalam hal ini Asihdengan sebuah ungkapan manis cinta dan kerinduan.
Ya, Pembaca pasti telah menuduhku begitu. Bahwa aku, lelaki yang tidak muda lagi, ternyata picik, pengecut dan tidak rasional. Pembaca akan bertanya: Mana ada seorang pengarang yang sering menang lomba, dengan cerita-ceritanya yang berbobot, seperti itu? Seperti bocah SMA itu?
Ah, baiklah para Pembaca yang budiman....
Latar belakangku dengan latar belakang Asih jauh berbeda. Aku akan ceritakan tentang aku saja, karena pembaca telah mengetahui latar belakang Asih, bukan? Aku akan bercerita tentang kesebatangkaraanku.
Aku anak tunggal yang ditinggal mati oleh ayah-ibu saat usiaku baru lima tahun. Pesawat yang mereka tumpangi hilang di hutan Kalimantan, yang sampai saat ini bahkan tidak dapat ditemukan. Seperti apa yang kuketahui kemudian, ternyata ayahku meninggalkan harta kekayaan yang tidak sedikit. Perusahaan, industri, real estate, belum lagi uangnya di bank dan saham-sahamnya yang bertebaran. Kesemuanya itu kemudian dikuasai oleh adik ayah, Tante Pin.
Tante Pin orangnya cantik, penuh vitalitas, dan terlihat cerdik. Seluruh apa yang telah ditinggalkan Ayah, berkembang di tangannya. la tidak menikah. la hidup dengan satu laki-laki ke satu laki-laki lain yang disukainya. Entah telah berapa banyak lelaki yang memasuki kamarnya (sejak kecelakaan pesawat yang menewaskan ayah-ibu itu, Tante Pin tinggal di rumah kami). Tante Pin perokok berat, suka minum, yang katanya untuk menghilangkan stress karena bekerja berat. Tapi ia juga tidak lupa memelihara aku.
Tante Pin memasukkan aku ke sekolah-sekolah favorit, mendatangkan guru les privat —bahasa, matematika sampai agama dan ngajidan membimbingku langsung bila ia punya waktu.
Itu berlangsung hingga aku berusia delapan belas tahun.
Lima hari setelah ulang tahunku ke delapan belas, Mas Tarjo, sepupu Tante Pin, datang ke rumah. Waktu itu petang. Tante Pin sedang ke Singapura.
"Sam, kau sekarang sudah dewasa," katanya memulai percakapan di beranda rumah. "Sudah saatnya kautahu segala-galanya. Tak perlu lagi ada yang disembunyikan."
Aku diam saja. Sama sekali aku belum mengerti arah pembicaraan Mas Tarjo. la baru saja pulang dari Inggris sebulan yang lalu. Dan sekarang, apa pula yang dibicarakannya. Tapi benakku mulai menyusun berbagai dugaan-dugaan, seperti apa yang juga telah dipesankan oleh Tante Pin bulan lalu, ketika Mas Tarjo baru enam hari berada di sini.
"Sam, bila Tarjo bicara macam-macam, jangan didengarkan. Tante bukan tidak mempercayaimu. Kau sudah dewasa tentu telah dapat membedakan mana yang benar dan mana yang buruk, yang salah," tutur Tante Pin waktu itu. "Tante takut kau akan dipengaruhi oleh Tarjo. Dari kecil dia telah di Inggris, jadi tidak tahu apa pun dengan masalah di sini."
"Saya tidak mengerti, Tante. Ujarku spontan.
"Yang Tante minta hanya kau mempercayai Tante, Sam," kata Tante Pin serius. "Dan Tante yakin, kau akan percaya pada Tante, bukan?" Tante Pin menatapku. Aku balas menatapnya. Tapi kulihat ada garis-garis keraguan di matanya.
"Sebenarnya ada apa, Tante?" tanyaku lagi.
Tante Pin terdiam. Beberapa kali ia menarik nafas berat. Dinyalakannya sebatang rokok kemudian dihirupnya dengan dalam. Perlahan dihembuskannya asap-asap dari mulutnya. la kembali memandangku.
"Sam, Tante senang kaupunya bakat mengarang dan menulis. Teruskanlah bakatmu itu. Tante yakin kau akan berhasil dan besar dengan bakat itu. Percayalah, Sam, suatu saat kelak itu akan berguna besar untuk hidupmu."
Penuturan Tante Pin menembus sampai ke dadaku. Ada suara ketidakmengertian yang memenuhi rongga dadaku. Tapi aku yakin sekali, meskipun hidup Tante di mataku tidak benar, ia sangat sayang kepadaku.
"Tante mencintaimu, Sam. Sebagaimana Mas Dahlan, ayahmu, mencintaimu. Tante akan terus menjagamu sampai kau berhasil menjadi orang...."
"Sam, kau melamun?" pertanyaan Mas Tarjo membuyarkan kalimat-kalimat Tante Pin di benakku.
"Oh, maaf, Mas. Saya hanya tidak mengerti."
Setelah menarik napas dalam-dalam, Mas Tarjo bicara, "Sam, aku akan bercerita tentang sesuatu yang belum pernah kaudengarkan. Aku yakin kau akan tertarik dan untuk kemudian dapat mengambil tindakan."
Aku hanya mendengarkan saja.
"Kau tentu tahu bahwa kau dilahirkan dari keluarga kaya-raya. Tapi aku yakin, sedikit pun kau tidak tahu berapa kekayaan ayahmu. Dan satu hal lagi, kau tidak tahu atas nama siapa seluruh kekayaan itu sekarang. Baiklah saya jawab sendiri: seluruh harta kekayaan yang tidak sedikit itu, yang seharusnya atas namamu, kini dikuasai oleh Tante Pin. la telah mengambil seluruh milik ayahmu."
"Mengambil? Mengambil milik ayahku?"
"Ya, mengambilnya untuk dirinya sendiri. Tantemu itu telah menggunakan harta kekayaan yang seharusnya jatuh ke tanganmu untuk biaya-biaya hura-huranya. Mabuk, plesiran, shoping ke luar negeri, kencan dengan berbagai laki-laki. Itu semua dengan uangmu, Sam!"
Aku tercengang. Menatap bagai tak percaya pada Mas Tarjo.
"Untuk menutupi kebusukannya itu, dia berlaku baik kepadamu. Memanjakanmu, memilihkan sekolah-sekolah yang favorit, mendatangkan guru les privat, dan sebagainya. Tidakkah kau perhatikan semua keramahan yang dibuat-buat itu, Sam? Ah, kau telah terlena dengan kehidupan seperti ini. Kehidupan bikinan Tante Pin. Agar kaulupa siapa kau sebenarnya."
Darah remajaku seperti naik ke kepala. Apalagi bila teringat ketika Tante Pin menolak permintaanku untuk dibelikan sebuah mobil. Alasannya belum waktunya aku memiliki sebuah mobil. Kemudian Tante Pin juga memaksakan kehendaknya padaku, agar aku belajar sungguh-sungguh, disiplin dan keras. Setiap kali guru les privat datang aku harus sudah siap di meja belajar. Bila tidak, Tante Pin akan marah-marah padaku.
Ya, Tante Pin telah mengatur seluruh hidupku!
Darah remajaku menggelegak. Apalagi ketika tahu seluruh harta peninggalan ayah dikuasainya!
"Kau harus menuntut, Sam. Kau harus buktikan bahwa kaulah sesungguhnya pemilik sah harta itu. Bukan Tante Pin! Kau mengerti apa yang kumaksud?" lanjut Mas Tarjo menatapku dengan tajam.
Tapi...” aku tercekat oleh keraguanku sendiri. Tante Pin sangat baik padaku, Mas. Meskipun ketika aku minta mobil, Tante menolaknya."
"Nah itu maksudku. Tante Pin hanya bersiasat manis kepadamu. Lihatlah, ketika kauminta sebuah hadiah yang harus mengeluarkan banyak uang. Tante Pin menolak. Dia tidak mau menghabiskan uang untukmu."
Mas Tarjo kian memanas-manasiku. Berbagai cerita dipaparkannya. Sesuai dengan emosi remajaku dan kemampuan memilah benakku yang masih terbatas, aku menerima semua omongannya. Aku benar-benar merasa ditipu oleh Tante Pin. Tante Pin telah menyabot seluruh harta kekayaan yang seharusnya menjadi milikku.
Aku harus memintanya, seperti kata Mas Tarjo!
Dua hari kemudian, pukul tujuh tiga puluh malam, ketika Tante Pin baru saja pulang dari Singapura, aku mencak-mencak masuk ke kamarnya. Memaki-maki Tante Pin dengan kata- kata yang amat kasar.
"Kau ternyata begundal, tengik, licik, jahat! Kau berpesta-pora dengan uang ayahku. Kau merampas seluruh kekayaan yang seharusnya jatuh ke tanganku. Perempuan laknat! Perempuan setan!" makiku dengan darah yang telah sampai ke kepala.
Tapi Tante Pin, seperti sudah menduga apa yang akan terjadi, berusaha tenang.
"Sam, tenangkan hatimu, turunkan emosimu. Bicaralah yang jelas kepada Tante. Kau sudah dewasa, Sam. Tidak baik berlaku begitu," tuturnya arif. Tapi aku memang muda, mentah.
"Kau jangan coba merayuku dengan kata-kata manis, begundal! Semua kebusukanmu telah terbongkar! Semua kelicikan dan kejahatanmu telah kuketahui. Jadi jangan coba-coba hendak menipuku lagi. Sebelum aku bertindak lebih jauh, sebaiknya kau berterus terang kepadaku. Serahkan semua apa yang seharusnya kumiliki!"
"Sam!" Tante Pin berteriak keras menghentikan luapan emosiku. "Dengar dulu penjelasan Tante. Duduklah dengan tenang."
"Tante, sekali lagi kuperingatkan, jangan coba- coba merayuku! Mengerti?! Aku telah cukup dewasa untuk tahu semua kebusukanmu!"
Tante Pin duduk tak berdaya di bibir dipan. Ini adalah kesempatan paling baik bagiku untuk menelanjangi seluruh akal busuknya, seluruh perilaku jahatnya.
"Bagaimana mungkin kau akan demikian baik kepadaku kalau tidak ada yang kauharapkan. Kau baik karena telah mengangkangi seluruh harta ayah!"
Tante Pin menunduk dalam. Aku kian meradang.
"Aku tidak dapat percaya bagaimana aku telah hidup bersama seorang perempuan terkutuk selama ini. Aku tidak percaya kalau telah dibesarkan oleh seorang pelacur!"
"Sam!" teriakan Tante Pin melengking keras. Bagai tidak percaya memandangiku.
"Apakah namanya bukan pelacur jika setiap malam laki-laki yang tidur denganmu berganti-ganti? Apakah itu namanya perempuan baik-baik? Tidak! Kau lebih terkutuk dari pelacur!"
"Diaa...aamm!" Tante Pin menghambur ke arahku. Tangannya melayang dan bersiap untuk menampar mukaku. Tapi tubuhku yang tinggi dan besar, dengan mudah dapat menangkapnya. Tante Pin menjadi tidak berdaya dalam cengkeraman kedua tanganku.
Tidak semudah itu untuk main tampar, Tante Genit! Dengan mudah aku dapat membanting tubuhmu dan membuat kau tidak berdaya!" aku menggeram, menikam matanya dengan sorot mataku yang seperti singa lapar. Dengan kasar kudorong tubuh perempuan itu. la terhuyung kemudian terjatuh di atas karpet.
"Saa...aamm...."
Suara Tante Pin melemah. Pelan sekali. Dengan memelas ia memandangku yang berdiri kelaparan! Matanya basah oleh air.
"Kau mau mendengarkan penjelasan Tante?" lanjutnya dengan lemah.
Penjelasan? Apakah kau mau menutupi kebusukanmu dengan kata-kata manis? Aku telah tahu semuanya dari Mas Tarjo," balasku sambil membuang muka. "Beruntung sekali ia pulang dari Inggris. Heh, aku akan kembali memiliki apa pun yang seharusnya menjadi milikku."
Kau keliru, Sam. Kau keliru," ratap Tante Pin lagi.
Sudahlah! Aku sudah muak melihat tampangmu! Yang kuperlukan sekarang hanyalah pengakuanmu bahwa kau memang telah menipuku selama ini. Esok pagi, kau harus memperlihatkan seluruh dokumen harta peninggalan ayah. Seluruh akta-aktanya harus lengkap bahwa akulah pewaris tunggalnya!"
Selesai berkata begitu aku langsung berbalik. Dengan kasar pintu kubanting dan berjalan terburu ke kamarku di lantai dua.
Pagi harinya, dengan mata sembab, Tante Pin masuk ke kamarku. Masih dengan marah aku membelakanginya.
"Sam, pagi ini kau harus sekolah. Satu bulan lagi kau akan ujian akhir, bukan?"
"Tidak penting! Yang kuinginkan adalah kejelasan, kepastian, bahwa harta peninggalan ayah adalah milikku. Bukan milikmu!" aku berbalik, menatap Tante Pin dengan tajam.
"Mana akta-akta itu?"
"Kau harus sekolah. Pukul satu siang temui Tante di kantor. Kita akan melihat akta-akta itu," suara Tante Pin masih bergetar hebat.
"Kau mengundur-undur waktu! Mengapa tidak sekarang saja?"
"Akta-akta itu masih di tangan beberapa notaris. Ayahmu mencatatkannya di beberapa kantor notaris yang berbeda."
"O, begitukah?" aku berusaha sinis padahal sama sekali aku tidak mengerti dengan akta-akta itu. Tidak mengerti dengan notaris-notaris. Ah, hanya kemarahan dan kepicikan yang kupaparkan di depan Tante Pin yang benar-benar memelas.
"Baiklah. Aku akan ke kantor pukul satu siang," kataku kemudian.
"Sebelumnya Tante minta, datanglah jika kau telah siap untuk mengetahui semuanya. Kau harus benar-benar siap, Sam. Tapi Tante yakin, kedewasaanmu akan mampu untuk menerimanya."
Aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya. Yang jelas, kalimat-kalimat yang telah ditanamkan oleh Mas Tarjo di benakku, menghunjam-hunjam, bahwa akulah si pemilik sah, si Raja muda yang kaya-raya!
Bukan Tante Pin, si perempuan jahat!
Pukul satu kurang sepuluh menit, aku sampai di kantor Tante Pin. Dengan berjalan tegap bagai seorang panglima, aku memintasi karyawan-karyawan Tante Pin. Aku benar-benar merasa menjadi raja!
Tanpa permisi kepada sekretaris yang menanyaiku, aku melangkah mendekati pintu. Tapi sungguh, ada debar yang tidak karuan di dadaku. Debaran yang mengingatkanku kepada kalimat Tante Pin tadi pagi: Datanglah jika kau telah siap.
"Sedang ada tamu. Pak," kata sekretaris lagi padaku.
Tapi aku tidak mengacuhkannya. Aku masih saja berdiri di depan pintu. Ragu dan mungkin takut. Entah. Tapi kemudian kudengar suara memaki-maki dari kantor Tante Pin. Aku terpaku. Diam di balik pintu mendengar makian itu.
"Harap dengar. Pin! Kau harus serahkan separuh dari harta ini kepadaku. Kau harus membaginya. Dan hanya aku satu-satunya orang yang tahu semua akal busukmu!"
"Akal busuk apa?" tantang Tante Pin.
"Kau mengangkangi seluruh harta Mas Dahlan tanpa sisa. Bahkan kau tidak memberitahu Sam. Seluruh akta tentunya telah kausulap dan mencantumkan namamu di sana!"
"Kau tidak tahu apa-apa, Tarjo. Dari kecil kau di Eropa sana. Dan sekarang, datang-datang kau malah ngawur!"
"Aku tidak ngawur. Bila kau tidak menerima tawaranku, maka bersama dengan Sam, aku akan menuntutmu!" balas lelaki itu dengan kasar.
Samar tapi jelas aku dapat menangkap percakapan itu. Bagaimana tidak bila mereka bicara saling keras. Bahkan si sekretaris pun seperti mendengar. Dia memandangku dengan melongo. Aku masih saja berdiri terpaku.
"Baiklah, Tarjo. Aku muak dengan rongronganmu, makianmu yang tidak terarah.
Bila kau ingin tahu, tunggulah Sam di sini. Dia akan datang. Dan kukatakan kepadamu, semalam dia telah memaki-makiku, menghinaku dengan pedas. Itu karena hasutanmu! Sam anak yang baik telah kauracuni maka kau harus menerima akibatnya...."
Belum lagi Tante Pin selesai bicara, di belakangku terdengar suara yang berat bertanya pada sekretaris.
"Kami ingin menemui Nyonya Pin. Di dalam ada Tuan Tarjo, kan?"
Aku menoleh. Polisi! Lima orang polisi bertubuh tegap berdiri dengan mata awas. Kemudian mereka menyebar ke berbagai penjuru ruangan. Yang satu menjaga lift, menjaga tangga, menjaga pintu ke ruang lain, dan menjaga lorong ke kanan ruangan. Yang satunya lagi mendorong tubuhku dan segera masuk ke ruang Tante Pin tanpa mengetuk, dengan senjata terpasang.
Kemudian kudengar perintah masuk kepada dua orangnya yang berdiri menjaga lorong dan pintu. Dua orang bersenjata itu dengan tangkas berlari. Melihat gelagat itu aku ingin kabur dan pulang saja. Tapi dua polisi yang mengawasi lift dan tangga memerintahkanku untuk tidak bergerak.
Lima belas menit kemudian baru aku dibolehkan turun. Tergesa kutinggalkan kantor Tante Pin menuju rumah. Tidak lagi ingat di benakku tentang akta-akta yang ingin kulihat. Jelas di mataku bagaimana tangan Mas Tarjo diborgol dan laras senjata menempel di punggungnya. Belum lagi mobil-mobil patroli yang berderet di sepanjang jalan depan kantor Tante Pin. Aku menggigil ketakutan.
Malam harinya Tante Pin datang ke kamarku.
"Tante tahu, tentu kau tergoncang juga melihat Tarjo dibawa polisi. Tante juga tidak mengira, Sam," tutur Tante Pin dan duduk di kursi belajarku. Aku menggelosoh saja di dipan.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apakah harus bertanya pada Tante Pin mengapa Mas Tarjo ditangkap? Sanggupkah aku bertanya setelah semalam aku memaki-makinya? Menyumpah-serapahi dengan kata-kata kotor? Ah, lebih baik diam saja.
Beberapa saat kamar menjadi hening. Tante Pin hanya duduk sambil memandangiku. Kulirik sekilas. Mata Tante Pin telah bening oleh air. Berkilat oleh lampu.
"Sam, mungkin Tante memang bejat, begundal, pemabuk, seperti katamu. Tapi Tante tidak pernah mendustaimu. Sam. Tante tidak pernah menipumu. Tante selalu mencoba untuk mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepadamu. Tante tidak mengira kalau kau mampu menyumpah-serapahi Tante. Tapi Tante yakin, bahwa itu karena ulah Tarjo. Dia telah menghasutmu dan darah remajamu menggelegak...."
Tuturan Tante Pin hanya kudengar saja. Egoku melarangku untuk ikut terbawa arus ceritanya. Siapa tahu Tante Pin telah mengatur skenario atas segalanya, termasuk dengan penangkapan Mas Tarjo.
"Sam, sekali lagi, Tante menyayangimu. Kudengar suara Tante Pin menjadi serak. "Mengenai akta-akta yang akan kaulihat itu, bila kau masih ingin, datanglah lagi besok ke kantor. Tante telah menghubungi seluruh notaris pencatatnya."
Aku diam saja.
"Tapi siapkan mentalmu, Sam. Bila kau ragu, jangan terburu-buru. Masih panjang waktu untuk itu.
Tante Pin kemudian meninggalkan kamarku. Kulihat air mata meleleh di pipinya.
***
Pembaca yang budiman, akhirnya, seperti apa yang ditekankan Tante Pin: datanglah jika telah siap. kuturuti. Aku rasanya tidak siap (entah siap untuk apa) untuk datang menemui Tante Pin dan notaris-notaris itu. Apalagi tak lama sesudah itu, koran dan media massa lain telah memberitakan Mas Tarjo yang ditangkap, kemudian diekstradisi ke Inggris: la terbukti melakukan beberapa kejahatan. Pemerkosaan anak-anak di bawah umur, perampokan dan pencurian dan bahkan pembunuhan. Di samping tuduhan-tuduhan baru yang akan segera terbukti bahwa ia ikut serta dalam beberapa sabotase yang dilakukan oleh pihak Irlandia Utara yang menuntut kemerdekaan.
Aku lambat-laun kian merasa kerdil di depan Tante Pin. Entah telah bagaimana sakitnya hati Tante Pin mendengar makian, cacianku beberapa waktu lalu. Tapi Tante Pin tetap tenang, dan menghadapiku seperti biasa. Aku benar-benar kikuk ketika Tante Pin malah memelukku dengan haru saat aku lulus SMA. Dan lebih malu lagi aku ketika Tante Pin mengadakan pesta kecil saat aku lulus Sipenmaru dan diterima di Fakultas Ekonomi UI.
Tapi pada akhirnya, kejahatanku pada Tante Pin pun seperti terbalaskan. Aku dipaksa menghadapi kenyataan pahit. Benar-benar pahit!
Semuanya masih dikarenakan oleh harta kekayaan ayah yang dikelola oleh Tante Pin. Kakak Mas Tarjo muncul dan menuntut bagiannya. Pertengkaran-pertengkaran terjadi lagi. Tapi yang membuatku kagum adalah usaha Tante Pin untuk mempertahankannya agar harta kekayaan itu tidak hilang lenyap dengan perlakuan ceroboh dan tradisi judi pada keluarga besar Mas Tarjo. Saat itulah aku mengetahui segalanya, bahwa Tante Pin bermaksud mulia: menyelamatkan harta kekayaan ayahku.
Memasuki tahun kedua kuliahku, kulihat Tante Pin kian dirongrong oleh Mas Dodo, kakak Mas Tarjo yang kabarnya dijatuhi hukuman mati. Hidup Tante Pin seperti penuh ancaman. Teror-teror Mas Dodo dihadapinya dengan sesabar mungkin.
Perbedaan Mas Dodo dengan Mas Tarjo adalah pandangan mereka kepadaku. Mas Tarjo memanfaatkan aku, sedangkan Mas Dodo sama sekali tidak mengacuhkan aku. Seolah aku bukanlah manusia. Dia melecehkan aku begitu saja!
Sampai kemudian kudengar Tante Pin bertengkar dengan Mas Dodo, di rumah kami sendiri. Lagi-lagi aku mendengar dari balik pintu, karena waktu itu aku baru saja pulang dari pesta ulang tahun temanku. Pukul sepuluh malam.
"Jangan ulangi sekali lagi, Dodo. Aku muak dengan ucapanmu. Kau tidak pernah dewasa, kau pengecut! Jangan hubung-hubungkan masalah ini dengan anak itu, dengan Sam. Sekali lagi jangan bawa-bawa Sam!"
Kudengar Mas Dodo tertawa. "Pin, kau memang bodoh. Bersusah payah bekerja, mati- matian mempertahankan harta Mas Dahlan hanya untuk anak tengik itu? Untuk anak tidak berimba itu? Ah, yang benar saja, Pin. Gunakan otakmu." Mas Dodo meneruskan tawanya.
"Kuminta jangan bawa-bawa anak itu, Dodo! Aku akan marah jika semua ini terbongkar. Kau yang bertanggung jawab!"
"Kau mengancamku?" Kemudian kudengar lagi Mas Dodo tertawa keras. Suaranya menjadi kacau. Terdengar dia sedikit mabuk.
"Ha...ha...Pin, Pin. Pin yang bodoh!" ulangnya.
"Jangan mendekatiku, Dodo! Jangan!' suara Tante Pin seperti cemas. Suaranya bergetar hebat.
"Apakah aku, sepupumu, tidak boleh menikmati tubuhmu yang menggiurkan?
Ha...ha... Ayolah, aku juga tertarik melihat tubuhmu, Pin."
Karena kudengar Tante Pin telah berteriak, aku menghambur masuk ke dalam. Sebuah vas bunga yang terletak di atas meja, kugunakan untuk menghantam kepala Mas Dodo yang telah menindih Tante Pin. Sekali vas pecah, lelaki itu menggelosoh terkapar.
***
Sejak aku mengetahui pembicaraan Tante Pin yang menyangkut aku dan Mas Dodo, aku jadi ingin tahu mengapa ada suatu rahasia yang mereka simpan tentang aku. Rahasia itulah kemudian yang benar-benar membuatku malu dan berdosa pada Tante Pin. Aku telah menghina Tante Pin, mencaci-makinya dengan kata-kata yang teramat kotor, menyakiti perasaannya.
Dengan diam-diam aku menyelidiki segalanya....
Aku adalah anak angkat Tuan Dahlan, yang dipungut dari sebuah rumah sakit. Ketika Tuan Dahlan mempersiapkan akta-akta warisnya, ia menjadikan dua nama sebagai pewarisnya, pertama Tante Pin dan kedua aku; jika kemudian Tante Pin melihatku sebagai anak yang patut untuk itu. Tapi jika ternyata waris kedua (aku) dipandang tidak cocok dan tidak memungkinkan untuk memegang harta yang ada, maka waris pertama harus menyerahkan harta kepada lembaga-lembaga sosial....
Aku benar-benar menangis di dada Tante Pin ketika tahu semuanya. Aku bersujud, bersimpuh dan minta ampun di kakinya. Sungguh tidak kecil dosa yang telah kubuat terhadap Tante Pin. Hingga kemudian aku memilih tinggal sendiri dan mengontrak sebuah rumah. Aku tinggalkan Tante Pin yang telah kulukai. Yang telah kuhina dulu. Sungguh tak sanggup aku untuk terus berada di rumah itu dengan segala kebaikan dan ketulusannya. Meskipun Tante Pin dengan keras melarangku pergi, tapi rasa bersalahku lebih keras lagi menyuruhku pergi. Tante Pin melepasku dengan tangisannya. Satu yang dimintanya agar aku menamatkan kuliahku (dan itu kupenuhi hingga aku menjadi sarjana dan bekerja di sebuah perusahaan ekspor-impor seperti sekarang) dan datang menemuinya setelah aku diwisuda.
Janji untuk menemuinya setelah wisuda tak pernah terlaksana karena dua tahun setelah kepergianku dari rumah, Tante Pin terbunuh. Mas Dodo telah melakukannya. Kemudian kuketahui juga seluruh harta kekayaan ayah yang berada di tangan Tante Pin dihibahkan kepada banyak lembaga sosial. Sementara aku tidak pernah dapat menemukan orang tuaku yang sesungguhnya. Maka dengan tulus dan perasaan bersalah yang dalam, aku mengangkat Tante Pin sebagai ibuku. Aku berdoa dengan khusyuk di makamnya, berdoa sebagai seorang anak terhadap ibunya.

Sejak saat itu, almarhumah Tante Pin, adalah ibuku. Dimakamnya aku menangis, mengadu, bercerita dan berdoa. (Sampai sekarang tradisi itu tetap kulakukan. Datang ke makamnya sekali dalam beberapa bulan dan berdoa khusyuk di pusaranya).
***


No comments: