AH, RE...

Dimuat di Majalah MODE Indonesia
Nomor 02 Tahun XIX 21 Januari 1995 hal 72-74


Re menahan nafas. Untuk pertama kalinya Re merasakan genggaman tangan seorang cowok. Tubuhnya bergetar dan panas-dingin. Rasanya, keringat yang menyemburat dari segenap pori, dipompakan oleh sebuah mesin berkekuatan besar. Lihat, serupa kepanasan, ia berpeluh.
"Kamu kedinginan, Re?" tanggap Bo, sang cowok, dengan suara yang bergetar. Re gelagapan. Dimakinya dirinya sendiri. Duh, mengapa aku menjadi begini gugup?! Sial, ketahuan Bo lagi!

"Re, kamu sakit?" ulang Bo dengan cemas. Dilepasnya genggaman tangan di jemari Re. Dengan tidak mengerti dipandanginya wajah Re yang berkeringat. "Re, kalau sakit, saya antar pulang, ya?"
"Nggak kok. Sungguh. Saya nggak apa-apa, Bo," balas Re berusaha memupus kegugupannya. Dilemparnya tatap jauh-jauh. Tapi cowok-cowok iseng yang duduk berjejer di tangga dept store ini, malah melambai-lambaikan tangan menggoda. Tak tanggung-tanggung seseorang di antaranya bahkan mengangkat topi dan melambaikannya pada Re. Lagi, Re meruntuk kegugupannya.
"Re, kamu marah pada saya?" kali ini tanggap Bo terdengar amat cemas. Re amat kaget. Kembali ditatapinya wajah Bo! Duhai, jangan salah duga, Bo sayang. Aku hanya kebat-kebit dengan perasaanku sendiri. Perasaan yang tolol, ya, Bo? Aku merasa malu. Malu sama kamu, Bo.
Tapi tidak jua barisan kalimat dalam hati itu dilontarkannya. Ditatapi begitu, giliran Bo yang blingsatan kebingungan. Apa lagi yang harus dilakukannya? Membalas tatapan Re yang tanpa kedip? Ih, mana beta sanggup?! Dengar, jantung Bo berdentum mpot-mpotan. Maka Bo pun membuang muka, menoleh ke arah lain. Tapi juga sial, seorang nyonya muda yang merasa ditatapi Bo, melengos sambil manyun. Ah, ah.... Bo pun meruntuk hatinya.
Kemudian, setelah beberapa lama terdiam dalam pikiran masing-masing, Re dan Bo akhirnya melepaskan tawa. Roti bakar yang telah terhidang sedari tadi, langsung saja dilalap habis. Cappucini pun tinggal kotak kosong. Dan, dalam hatinya, Re tersenyum kecut: Ah, baru cuma pegang tangan, aku sudah menggigil ketololan. Apalagi... Ah, mungkin karena ini kencam pertama, lanjutnya diam-diam.
Maka, kencan pertama itu, kerap menjadi lamunan yang menggelitik hati Re.
"Non Re, ada tilpon!" teriak Mbi dari luar kamar.
Re menarik turun senyumnya mengingat kencan pertama yang full nervous itu. Sebuah kencan pertama yang tak mungkin untuk dilupakannya. Dan, sekaligus, kencan dengan degup-debur jantung mpot-mpotan. Ih, kencan pertama yang bego, kata Re lagi sambil masih belum menyahut panggilan Mbi.
“Non…!” teriak Mbi lebih keras lagi. “Dengar nggak sih?!
Re buru-buru menyahut dan segera menghambur. Gegas diputarnya gerendel pintu kamar, dan tubuh gembrot Mbi menghalangi geraknya.
“Lagi ngelamun, ya?!” gerutu Mbi dan terus mengiringi langkah Re ke meja telepon. “Pasti lamunin cowok, ya?!”
“Hush! Jangan suka usilin orang,” ujar Re terus melangkah. “Dari siapa sih, Mbi, telepon jam segini?”
“Tahu. Kayaknya suara cewek.”
Setelah sedikit ber'hallo' Re segera tahu siapa yang menelponnya. Dan ia berkata pada Mbi, “Eh, udah. Sana. Re mau nggosip nih.” Perempuan baya yang abdi itu berlalu sambil mencibir. Re balas mengeluarkan lidahnya dan berteriak wee…
Tapi kemudian, bagai bicara tanpa kata, Re terlihat mengangguk-angguk. Sesekali menggeleng. Cukup lama adegan lucu itu berjalan. Dan terakhir, terdengar Re memaki-maki guyon sembari melepaskan tawanya yang, jujur saja, --semua teman Re bilang begitu-- indah.
Entah apa yang telah didengarnya dari Rika, Re kemudian terburu kembali ke kamarnya.
Re segera berbenah.

***

Belum Re dipersilakan duduk, Rika menyongsongnya dengan suara lirih nyaris berisi tangis. Re merasa ia menjadi bingung.
"Sudah, kita bicara di kamar kamu saja. Ntar ada tamu kan jadi gak enak. Habis, tuan rumah lagi bersedih-sedih," ujar Re tanpa nada menggoda, dan segera saja berlalu menuju kamar Rika.
"Sekarang kamu cerita yang jelas, biar saya ngerti," ujar Re sambil menghempaskan tubuhnya ke dipan. "Dan, jangan coba-coba mengeluarkan air mata, Rik!”
Re, dari dahulu kala, sangat tidak suka melihat ada air yang merebak di sudut mata. Re benci itu. Dan karena itulah Re tidak pernah menangis, kecuali ketika Bib, burung kesayangannya, mati. Ketika itu Re sedang berlibur di Bukittinggi. Ganti yang memberi makan Bib adalah Mbi. Malangnya, ketika Mbi selesai memberi makan Bib, Mbi lupa menggantung sangkar burung itu lagi di tempat biasa. Hingga Bib yang malang dilindas banjir yang sering munncul di rumah Re. Itulah peristiwa di sebuah malam duka yang sempat membuat Re meratap tersedu-sedan. Meskipun Bunda telah setuju sekali dengan almarhumnya Bib --karena menurut beliau nggak pantas seorang cewek memelihara burung, apalagi perkutut-- tapi Re tetap saja berkabung. Dipasangnya bendera hitam setengah tiang di sangkar Bib yang telah kosong.
"Kamu nggak bakal nertawain saya, Re?" tanya Rika amat lirih.
"Udah deh, kamu cerita saja. Saya nggak suka tangis-tangisan. Kayak lagu dangdut aja!" tegas Re demi melihat mata Rika masih saja bening.
Rika menarik nafas panjang-panjang. Dia tahu benar, kalau Re sudah bicara begitu, maka sekali-kali jangan melelehkan air mata. la tidak akan segan-segan kabur tanpa pemberitahuan, dan kemudian akan memaki-maki lewat telepon.
"Lho, kok belum mulai?"
"Kamu janji kan nggak bakal tertawa?"
Re mengangkat jari. "Suer!"
"Kemarin..." Rika mendadak berhenti lagi. Tapi demi melihat gelagat Re akan segera kabur, diteruskannya meski sedikit tersendat. "Saya dicium Beng…”
“Astagalagata! Kamu dicium oleh Beng?!" Re memelototkan matanya hingga amat bundar. "Bibir?"
"Pipi."
“Ck ck ck… kamu dicium Beng? Saya benar-benar nggak nyangka, Rik, kalau kamu setega itu.” Re geleng-geleng kepala seperti amat menyesalkan. Tapi hatinya tersenyum amat lepas melihat ketakutan sohibnya itu.
"Memangnya kenapa, Re? Bahaya?"
"Bahaya sih nggak. Tapi, jaman sekarang kan banyak penyakit. Itu tuh ... ih, jangan-jangan ..."
"Sudah, Re! Jangan nakut-nakuti!" sambar Rika. "Saya cuma pengen nasehat kamu, langkah apa yang harus saya lakukan. Saya malu dan bingung."
"Malu tapi mau kan?" pintas Re nakal. "Mau digituin lagi?!"
"Re ...!" jerit Rika kesal. "Saya benar-benar butuh nasehat kamu. Kamu kan pengalaman."
"Eit! Tunggu dulu. Cabut kata-kata terakhir itu!" sambar Re lagi.
"Udah, Re, jangan belagu." Kali ini tingkah Re lebih kenes lagi. Dipandanginya seluruh tubuh Rika dengan sikap menyidik: bagai memandangi seorang pesakitan. Alisnya diangkat tinggi-tinggi, jidatnya berlipat-lipat dan mulutnya sedikit menganga. Rika jadi tak tahan.
"Re!" jeritnya lebih keras. "Jangan pandangi aku seperti itu!"
"Jangan-jangan ..."
"Apa?!"
"Tak hanya pipi kamu yang….”
Mendengar guruan Re yang di telinga Rika amat keterlaluan itu, air mulai merebak lagi di sudut matanya. Ditatapinya Re dengan memelas. Satu titik air mulai jatuh di pipinya, bergulir pelan.
"Re, kamu menduga sejauh itu?" gugunya pilu.
Re kelabakan. Dia tidak menyangka kalau guruannya ditanggap serius. Tapi bukan Re namanya kalau buru-buru minta maaf. Maka Re segera mengalihkan suasana. Membawa Rika ke alam lalu, ke alam yang pernah dilewatinya bersama Bo.
Dan, berceritalah Re….
Baru beberapa saat lalu pipi Re dicium Bo. Re tak mampu membayangkan bagaimana warna wajahnya selah sentuhan yang amat singkat itu. Dipandanginya saja laut: buih ombak, garis-garis airnya yang tiada henti bergerak, beberapa elang laut yang melayang, dan perahu-perahu nelayan di kejauhan. Re mencoba menahan degup jantungnya yang teramat cepat. Sementara Bo, di sisinya, juga tidak tahu harus bagaimana. Cowok itu hanya menggurat-gurat pasir dengan jarinya.
"Re, kamu marah?" pertanyaan Bo nyaris gumaman di sela ombak yang mendebur.
Re hanya diam. la tidak tahu harus menjawab apa. Dibilang 'iya' pasti Bo merasa bersalah dan mungkin tersinggung. Kalau dibilang 'tidak', lah, mau ditaroh di mana mukaku ini?! Bisa-bisa Bo keliru menafsirkannya.
Maka Re tetap tidak menjawab.
"Kalau kamu marah, marahlah. Jangan diam begitu, Re. Bisa-bisa jadi beban bagi kita," lanjut Bo amat arif tanpa memandang pada Re. la memperhatikan air yang pecah di bibir pantai.
Kemudian, dan kemudiannya lagi, mereka pun memilih pulang saja. Di depan cermin Re memperhatikan wajahnya. Diusapnya pipinya dengan perasaan yang mungkin janggal. Penat begitu, Re merabahkan diri dan kemudian lelap.
Memang, satu-dua hari setelah peristiwa itu, Re amat kikuk. Malu bertemu Bo. Mereka seperti sama-sama bingung dan tak tahu juntrungan. Tapi kemudian semuanya kembali normal, meninggalkan kesan yang dalam di hati.
Tapi memang manusia selalu berubah. Bo kemudian lengket dengan Ficya yang genit dan manja. Tidak ada lagi tegur-sapa antara Re dan Bo. Pada awalnya Re merasa amat luka, kecewa dan marah. Tapi setelah direnung-inapkannya, Re merasa beruntung karena tak bersama Bo lagi. Jelas sekarang watak belang Bo. Syukur perangai buruk Bo ketahuan di saat yang boleh dikata awal dalam hubungan mereka. Dan, karenanya, Re tidak perlu kecewa.
Walau begitu, sebenarnya sulit bagi Re untuk melupakan kenangan indah bersama Bo. Ciuman pipi yang pertama kali dirasa Re. Mungkin benar kata orang bahwa ciuman pertama akan tetap terkenang sepanjang hayat. Tapi Re tak peduli. Mau sepanjang hayat, sepanjang jalan tol, sepanjang jalan kenangan,atau sepanjang-panjang. Yang pasti Re telah mulai memupus bayangan cowok itu.
Ah.
Re mengakhiri ceritanya.
"Jadi kamu juga malu waktu pertama itu?" tanya Rika.
"Ya. Tapi harus diingat, jangan larut. Bagaimanapun kita harus mampu menjaga diri, bukan?"
Rika mengangguk-angguk.
"Sebenarnya kamu nggak perlu nangis, Rik. Pokoknya pandai-pandai saja jaga diri."
Rika berkedip-kedip. Sekali ia berterima kasih, kemudian berjalan ke toilet. Dipandanginya wajahnya di sana.
"Re," ujarnya sambil melihat di kaca.
"Heh?"
“Rasanya pengen lagi, ya?”
Re melempar bantal guling.


***



No comments: